Rabu, 21 Januari 2026

Peran Mikroba pada Kesehata

 Peran Mikroba pada Kesehatan


Pendahuluan


Mikroorganisme atau mikroba merupakan makhluk hidup berukuran mikroskopis yang tersebar luas di lingkungan, termasuk di dalam tubuh manusia. Dalam bidang kesehatan, mikroba memiliki peran yang sangat penting, baik yang bersifat menguntungkan maupun merugikan. Pemahaman mengenai peran mikroba pada kesehatan menjadi hal yang krusial dalam upaya pencegahan penyakit, pengobatan, serta peningkatan kualitas hidup manusia.


Pengertian Mikroba


Mikroba adalah organisme hidup berukuran sangat kecil yang hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop. Mikroba meliputi bakteri, virus, jamur, protozoa, dan alga mikroskopis. Dalam konteks kesehatan, mikroba dapat berperan sebagai patogen penyebab penyakit maupun sebagai mikroorganisme yang bermanfaat bagi tubuh.


Peran Mikroba yang Menguntungkan dalam Kesehatan


1. Mikroba sebagai Flora Normal Tubuh


Di dalam tubuh manusia terdapat mikroba yang hidup secara alami, terutama di saluran pencernaan, kulit, dan saluran pernapasan. Mikroba ini dikenal sebagai flora normal. Contohnya adalah Lactobacillus dan Bifidobacterium yang hidup di usus. Flora normal berfungsi membantu pencernaan, menghasilkan vitamin (seperti vitamin K dan B), serta melindungi tubuh dari serangan mikroba patogen.


2. Mikroba dalam Produksi Obat dan Antibiotik


Banyak mikroba dimanfaatkan dalam industri farmasi untuk menghasilkan obat-obatan. Contohnya, jamur Penicillium notatum


Penulis

Bayu Nur Apriyanto

202201689

Kelas C


Selasa, 20 Januari 2026

PERANAN MIKROBA PADA MAKANAN DAN MINUMAN

 

MAKALAH

PERANAN MIKROBA PADA MAKANAN DAN MINUMAN

Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi Lingkungan

Akademi Teknik Tirta Wiyata Magelang

Dosen Pengampu: Sunarto M.Ph

 


 

Oleh:

Muhammad Zaky Al Farras

NPM : 202301646

 

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN

AKADEMI TEKNIK TIRTA WIYATA

MAGELANG

2026


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mikroba adalah makhluk hidup mikroskopis yang memiliki peran penting dalam makanan dan minuman. Di satu sisi, mikroba digunakan secara tradisional untuk fermentasi pangan seperti tempe dan yoghurt yang meningkatkan cita rasa, nilai gizi, dan umur simpan makanan. Produk fermentasi ini menjadi bagian dari kearifan lokal dan ketahanan pangan Indonesia, membantu meningkatkan kualitas nutrisi serta mendukung kesehatan pencernaan (BPOM RI, 2023).

Di sisi lain, mikroba juga bisa menjadi ancaman apabila makanan terkontaminasi bakteri atau jamur patogen akibat pengolahan, penyimpanan, atau sanitasi yang buruk. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami kasus keracunan massal terkait makanan siap saji, terutama yang terjadi melalui program konsumsi massal seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menunjukkan perlunya pengelolaan keamanan pangan secara serius (Liputan6.com, 2025).

Permasalahan ini memicu kebutuhan untuk memahami secara komprehensif peran mikroba dalam makanan dan minuman di Indonesia, baik dari sisi manfaatnya dalam fermentasi maupun risiko keracunan pangan. Pemahaman tersebut diperlukan sebagai dasar untuk meningkatkan keamanan pangan nasional.

1.2 Rumusan Masalah

· Bagaimana peran mikroba dalam makanan dan minuman di Indonesia sebagai agen fermentasi yang bermanfaat sekaligus sebagai penyebab keracunan pangan?

· Apa penyebab kontaminasi mikroba pada makanan konsumsi massal di Indonesia, khususnya pada MBG?

· Apa dampak yang ditimbulkan oleh mikroba patogen terhadap kesehatan dan masyarakat?

· Upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah risiko keracunan makanan akibat mikroba?

1.3 Tujuan Penulisan

· Menjelaskan peran mikroba dalam makanan dan minuman di Indonesia.

· Mengidentifikasi penyebab kontaminasi mikroba pada makanan konsumsi massal.

· Menjelaskan dampak mikroba patogen terhadap kesehatan dan masyarakat.

· Menyusun solusi pencegahan yang relevan untuk konteks Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Peran Mikroba dalam Makanan dan Minuman

Mikroba memiliki dua peran utama dalam makanan dan minuman, yaitu sebagai mikroba yang menguntungkan dan mikroba yang merugikan. Peran ini bergantung pada jenis mikroba serta cara pengelolaannya.

Peran mikroba yang menguntungkan dalam pangan meliputi:

· Membantu proses fermentasi makanan tradisional seperti tempe dan yoghurt.

· Meningkatkan nilai gizi dan kecernaan bahan pangan.

· Menghasilkan senyawa probiotik yang baik bagi kesehatan pencernaan (BPOM RI, 2023; Jurnal IPB, 2022).

Sebaliknya, mikroba patogen dapat menyebabkan kerusakan makanan dan gangguan kesehatan apabila mencemari pangan tanpa pengendalian yang tepat (WHO, 2022).

2.2 Penyebab Kontaminasi Mikroba pada Makanan Konsumsi Massal

Kontaminasi mikroba pada makanan konsumsi massal umumnya terjadi akibat kelemahan dalam sistem pengolahan dan pengawasan pangan. Secara umum, penyebab kontaminasi dapat dijelaskan sebagai berikut.

Faktor penyebab kontaminasi mikroba meliputi:

· Higiene penjamah makanan yang rendah.

· Penyimpanan makanan pada suhu yang tidak aman.

· Kontaminasi silang antara bahan mentah dan makanan matang.

· Tidak diterapkannya standar keamanan pangan seperti SOP dan HACCP (BPOM RI, 2023).

Faktor-faktor tersebut sering ditemukan pada produksi makanan skala besar, termasuk pada pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah (Antara News, 2025).

2.3 Dampak Keracunan Pangan Akibat Mikroba

Keracunan pangan akibat mikroba patogen menimbulkan berbagai dampak yang tidak hanya terbatas pada kesehatan, tetapi juga berdampak sosial dan ekonomi.

Dampak yang ditimbulkan antara lain:

· Gangguan kesehatan seperti diare, muntah, dan demam.

· Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap program pangan pemerintah.

· Kerugian ekonomi akibat biaya pengobatan dan penghentian distribusi makanan (WHO, 2022; Liputan6.com, 2025).

Dampak tersebut menunjukkan bahwa keracunan pangan merupakan masalah serius yang perlu penanganan menyeluruh.

2.4 Upaya Penanggulangan dan Pencegahan

Upaya penanggulangan keracunan makanan akibat mikroba perlu difokuskan pada pencegahan sejak proses pengolahan hingga distribusi makanan. Hal ini penting karena sebagian besar kasus keracunan pangan terjadi akibat kelalaian dalam penerapan kebersihan dan standar keamanan pangan. Dengan pengelolaan yang tepat, risiko pertumbuhan mikroba patogen dapat ditekan secara signifikan (BPOM RI, 2023).

Untuk itu, diperlukan langkah-langkah pencegahan yang terencana dan dapat diterapkan secara langsung, khususnya pada produksi makanan konsumsi massal seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Upaya penanggulangan dan pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

· Penerapan SOP dan sistem HACCP.

SOP dan HACCP berfungsi untuk mengendalikan titik kritis yang berpotensi menjadi sumber kontaminasi mikroba selama proses pengolahan makanan (BPOM RI, 2023).

· Pelatihan higiene dan sanitasi penjamah makanan.

Penjamah makanan perlu dibekali pengetahuan mengenai kebersihan diri, sanitasi peralatan, dan lingkungan kerja agar tidak menjadi sumber kontaminasi mikroba (Kementerian Kesehatan RI, 2022).

· Pengawasan dan uji mikrobiologi secara berkala.

Pemeriksaan rutin oleh instansi terkait diperlukan untuk memastikan makanan yang didistribusikan aman dan layak dikonsumsi (Antara News, 2025).


BAB III

KESIMPULAN

Mikroba memiliki peran yang sangat penting dalam makanan dan minuman di Indonesia, baik sebagai agen yang memberikan manfaat maupun sebagai penyebab masalah kesehatan. Dalam konteks pangan, mikroba berperan positif melalui proses fermentasi yang menghasilkan produk bernilai gizi tinggi seperti tempe dan yoghurt, serta berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan kearifan lokal masyarakat Indonesia.

Namun, di sisi lain, mikroba patogen dapat menimbulkan risiko serius apabila mencemari makanan akibat pengolahan, penyimpanan, dan distribusi yang tidak memenuhi standar keamanan pangan. Kasus keracunan makanan massal, termasuk yang terjadi pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menunjukkan bahwa pengendalian mikroba dalam pangan masih perlu ditingkatkan agar kejadian serupa tidak terulang.

Oleh karena itu, permasalahan utama bukan terletak pada keberadaan mikroba itu sendiri, melainkan pada lemahnya penerapan higiene, sanitasi, serta sistem pengawasan pangan. Dengan penerapan standar operasional yang baik, pelatihan penjamah makanan, dan pengawasan rutin oleh instansi terkait, risiko keracunan makanan akibat mikroba dapat diminimalkan dan keamanan pangan di Indonesia dapat terjaga secara berkelanjutan.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Antara News. (2025). Kasus keracunan makanan pada Program Makan Bergizi Gratis.

BPOM RI. (2023). Pedoman Keamanan Pangan.

Jurnal IPB. (2022). Peran mikroba dalam fermentasi pangan.

Kementerian Kesehatan RI. (2022). Keamanan pangan dan sanitasi.

Liputan6.com. (2025). Keracunan massal akibat makanan siap saji.

World Health Organization. (2022). Food safety and foodborne diseases.

FENOMENA HABs (HARMFUL ALGAL BLOOMS) ATAU EUTROFIKASI DI INDONESIA

 

FENOMENA HABs (HARMFUL ALGAL BLOOMS)

ATAU EUTROFIKASI DI INDONESIA

Dosen Pengampu : Sunarto, MPH.

 


 

 

 

Disusun Oleh:

BAGAS SAPUTRA BANGSAWAN

NPM : 202301597

 

 

 

PROGRAM STUDI DIPLOMA TEKNIK LINGKUNGAN

AKADEMI TEKNIK TIRTA WIYATA

MAGELANG

2026

 

 

 

 

Kata Pengantar

 

Segala puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi petunjuk dan Ridho-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat penulis selesaikan dengan baik. Tidak lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. 

Terlepas dari itu semua, penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah tugas Mikrobiologi dengan tema FENOMENA HABs (HARMFUL ALGAL BLOOMS) ATAU EUTROFIKASI DI INDONESIA jauh dari kata sempurna, baik aspek kualitas maupun aspek kuantitas dari materi dan penelitian yang disajikan. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik yang bersifat membangun dari berbagai pihak guna memperbaiki makalah ini agar menjadi lebih baik kedepannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Magelang, 5 Januari 2026

 

 

 

Bagas Saputra Bangsawan

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan sumber daya perairan yang sangat melimpah, baik perairan tawar maupun laut. Perairan tersebut dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti air minum, perikanan, irigasi, pariwisata, dan transportasi. Namun, meningkatnya aktivitas manusia seperti pertumbuhan penduduk, pertanian intensif, industri, serta limbah domestik telah menyebabkan penurunan kualitas perairan.

Salah satu permasalahan utama yang sering terjadi adalah eutrofikasi, yaitu kondisi perairan yang kaya nutrien, terutama nitrogen dan fosfor. Kondisi ini memicu pertumbuhan alga secara berlebihan yang dikenal sebagai Harmful Algal Blooms (HABs). Fenomena HABs tidak hanya menurunkan kualitas air, tetapi juga dapat menghasilkan racun (toksin) yang berbahaya bagi organisme perairan dan manusia. Oleh karena itu, kajian mengenai HABs dan eutrofikasi sangat penting untuk memahami dampak serta upaya pengendaliannya di Indonesia.

 

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan eutrofikasi dan Harmful Algal Blooms (HABs)?

2. Di mana dan kapan fenomena HABs terjadi di Indonesia?

3. Apa penyebab terjadinya HABs dan eutrofikasi?

4. Apa saja kerugian dan keuntungan yang ditimbulkan?

5. Bagaimana upaya penanggulangan dan solusi yang dapat dilakukan?

 

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Menjelaskan pengertian eutrofikasi dan HABs

2. Mengidentifikasi kejadian HABs di perairan Indonesia

3. Menjelaskan penyebab serta dampak HABs

4. Mengetahui upaya penanggulangan dan solusi yang dapat diterapkan

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Eutrofikasi dan Harmful Algal Blooms (HABs)

Eutrofikasi adalah proses peningkatan kesuburan perairan akibat masuknya nutrien dalam jumlah berlebih, terutama nitrogen (N) dan fosfor (P). Nutrien tersebut merangsang pertumbuhan fitoplankton dan alga secara cepat. Jika pertumbuhan ini tidak terkendali, maka akan terjadi ledakan populasi alga yang dikenal sebagai Harmful Algal Blooms (HABs).

HABs merupakan fenomena meningkatnya populasi alga atau sianobakteri tertentu yang dapat menimbulkan dampak negatif, seperti penurunan oksigen terlarut, kematian ikan, serta produksi racun berbahaya bagi manusia dan hewan.

 

2.2 Kejadian HABs di Indonesia

Fenomena HABs telah banyak dilaporkan terjadi di berbagai perairan Indonesia, baik perairan tawar maupun laut. Beberapa contoh kejadian HABs antara lain:

1. Waduk Jatiluhur (Jawa Barat) yang sering mengalami blooming Microcystis sp.

2. Danau Toba (Sumatera Utara) akibat beban nutrien dari limbah domestik dan keramba jaring apung.

3. Teluk Jakarta, yang menerima aliran limbah nutrien dari sungai-sungai di wilayah perkotaan.

Kejadian tersebut masih berlangsung hingga saat ini dan cenderung meningkat akibat tekanan aktivitas manusia.

 

2.3 Penyebab Terjadinya HABs

Penyebab utama eutrofikasi dan HABs adalah masuknya nutrien berlebih ke badan air. Sumber nutrien tersebut antara lain:

1. Limbah domestik yang tidak diolah secara optimal.

2. Limpasan pupuk dari aktivitas pertanian.

3. Limbah industri dan peternakan.

4. Aktivitas perikanan seperti keramba jaring apung.

Selain itu, faktor lingkungan seperti suhu tinggi, perairan yang tenang, dan intensitas cahaya yang cukup turut mempercepat pertumbuhan alga.

 

2.4 Dampak dan Kerugian yang Ditimbulkan

Fenomena HABs menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain:

1. Menurunnya kualitas air (bau, warna, dan rasa air berubah).

2. Berkurangnya oksigen terlarut yang menyebabkan kematian ikan.

3. Toksin alga yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

4. Gangguan terhadap instalasi pengolahan air minum (IPA).

Namun, dalam skala terbatas, alga juga memiliki potensi manfaat, misalnya sebagai sumber biomassa atau bahan baku bioenergi jika dikelola dengan baik.

 

2.5 Upaya Penanggulangan dan Solusi

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan eutrofikasi dan HABs antara lain:

1. Pengendalian sumber pencemar nutrien melalui peningkatan pengolahan limbah.

2. Pengurangan penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.

3. Pengelolaan kegiatan perikanan secara berkelanjutan.

4. Penerapan teknologi pengolahan air seperti aerasi dan koagulasi.

5. Monitoring kualitas air secara rutin dan berkelanjutan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Fenomena eutrofikasi dan Harmful Algal Blooms (HABs) merupakan permasalahan lingkungan yang serius di perairan Indonesia. Peningkatan nutrien akibat aktivitas manusia menjadi penyebab utama terjadinya blooming alga. Dampak yang ditimbulkan meliputi penurunan kualitas air, gangguan ekosistem, serta ancaman terhadap kesehatan manusia. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan terpadu dan berkelanjutan untuk mengurangi risiko terjadinya HABs di masa mendatang.

 

3.2 Saran

Diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor industri dalam pengelolaan kualitas perairan. Selain itu, peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan perairan sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya eutrofikasi dan HABs.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Effendi, H. (2003). Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius.

Chorus, I., & Bartram, J. (1999). Toxic Cyanobacteria in Water. WHO.

Wetzel, R. G. (2001). Limnology: Lake and River Ecosystems. Academic Press.

KLHK. (2020). Laporan Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia.

Peran Mikroba pada Kesehata

 Peran Mikroba pada Kesehatan Pendahuluan Mikroorganisme atau mikroba merupakan makhluk hidup berukuran mikroskopis yang tersebar luas di li...