MAKALAH
PERANAN MIKROBA PADA MAKANAN DAN MINUMAN
Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi Lingkungan
Akademi Teknik Tirta Wiyata Magelang
Dosen Pengampu: Sunarto M.Ph
Oleh:
Muhammad Zaky Al Farras
NPM : 202301646
PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
AKADEMI TEKNIK TIRTA WIYATA
MAGELANG
2026
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mikroba adalah makhluk hidup mikroskopis yang memiliki peran penting dalam makanan dan minuman. Di satu sisi, mikroba digunakan secara tradisional untuk fermentasi pangan seperti tempe dan yoghurt yang meningkatkan cita rasa, nilai gizi, dan umur simpan makanan. Produk fermentasi ini menjadi bagian dari kearifan lokal dan ketahanan pangan Indonesia, membantu meningkatkan kualitas nutrisi serta mendukung kesehatan pencernaan (BPOM RI, 2023).
Di sisi lain, mikroba juga bisa menjadi ancaman apabila makanan terkontaminasi bakteri atau jamur patogen akibat pengolahan, penyimpanan, atau sanitasi yang buruk. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami kasus keracunan massal terkait makanan siap saji, terutama yang terjadi melalui program konsumsi massal seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menunjukkan perlunya pengelolaan keamanan pangan secara serius (Liputan6.com, 2025).
Permasalahan ini memicu kebutuhan untuk memahami secara komprehensif peran mikroba dalam makanan dan minuman di Indonesia, baik dari sisi manfaatnya dalam fermentasi maupun risiko keracunan pangan. Pemahaman tersebut diperlukan sebagai dasar untuk meningkatkan keamanan pangan nasional.
1.2 Rumusan Masalah
· Bagaimana peran mikroba dalam makanan dan minuman di Indonesia sebagai agen fermentasi yang bermanfaat sekaligus sebagai penyebab keracunan pangan?
· Apa penyebab kontaminasi mikroba pada makanan konsumsi massal di Indonesia, khususnya pada MBG?
· Apa dampak yang ditimbulkan oleh mikroba patogen terhadap kesehatan dan masyarakat?
· Upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah risiko keracunan makanan akibat mikroba?
1.3 Tujuan Penulisan
· Menjelaskan peran mikroba dalam makanan dan minuman di Indonesia.
· Mengidentifikasi penyebab kontaminasi mikroba pada makanan konsumsi massal.
· Menjelaskan dampak mikroba patogen terhadap kesehatan dan masyarakat.
· Menyusun solusi pencegahan yang relevan untuk konteks Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Peran Mikroba dalam Makanan dan Minuman
Mikroba memiliki dua peran utama dalam makanan dan minuman, yaitu sebagai mikroba yang menguntungkan dan mikroba yang merugikan. Peran ini bergantung pada jenis mikroba serta cara pengelolaannya.
Peran mikroba yang menguntungkan dalam pangan meliputi:
· Membantu proses fermentasi makanan tradisional seperti tempe dan yoghurt.
· Meningkatkan nilai gizi dan kecernaan bahan pangan.
· Menghasilkan senyawa probiotik yang baik bagi kesehatan pencernaan (BPOM RI, 2023; Jurnal IPB, 2022).
Sebaliknya, mikroba patogen dapat menyebabkan kerusakan makanan dan gangguan kesehatan apabila mencemari pangan tanpa pengendalian yang tepat (WHO, 2022).
2.2 Penyebab Kontaminasi Mikroba pada Makanan Konsumsi Massal
Kontaminasi mikroba pada makanan konsumsi massal umumnya terjadi akibat kelemahan dalam sistem pengolahan dan pengawasan pangan. Secara umum, penyebab kontaminasi dapat dijelaskan sebagai berikut.
Faktor penyebab kontaminasi mikroba meliputi:
· Higiene penjamah makanan yang rendah.
· Penyimpanan makanan pada suhu yang tidak aman.
· Kontaminasi silang antara bahan mentah dan makanan matang.
· Tidak diterapkannya standar keamanan pangan seperti SOP dan HACCP (BPOM RI, 2023).
Faktor-faktor tersebut sering ditemukan pada produksi makanan skala besar, termasuk pada pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah (Antara News, 2025).
2.3 Dampak Keracunan Pangan Akibat Mikroba
Keracunan pangan akibat mikroba patogen menimbulkan berbagai dampak yang tidak hanya terbatas pada kesehatan, tetapi juga berdampak sosial dan ekonomi.
Dampak yang ditimbulkan antara lain:
· Gangguan kesehatan seperti diare, muntah, dan demam.
· Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap program pangan pemerintah.
· Kerugian ekonomi akibat biaya pengobatan dan penghentian distribusi makanan (WHO, 2022; Liputan6.com, 2025).
Dampak tersebut menunjukkan bahwa keracunan pangan merupakan masalah serius yang perlu penanganan menyeluruh.
2.4 Upaya Penanggulangan dan Pencegahan
Upaya penanggulangan keracunan makanan akibat mikroba perlu difokuskan pada pencegahan sejak proses pengolahan hingga distribusi makanan. Hal ini penting karena sebagian besar kasus keracunan pangan terjadi akibat kelalaian dalam penerapan kebersihan dan standar keamanan pangan. Dengan pengelolaan yang tepat, risiko pertumbuhan mikroba patogen dapat ditekan secara signifikan (BPOM RI, 2023).
Untuk itu, diperlukan langkah-langkah pencegahan yang terencana dan dapat diterapkan secara langsung, khususnya pada produksi makanan konsumsi massal seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Upaya penanggulangan dan pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
· Penerapan SOP dan sistem HACCP.
SOP dan HACCP berfungsi untuk mengendalikan titik kritis yang berpotensi menjadi sumber kontaminasi mikroba selama proses pengolahan makanan (BPOM RI, 2023).
· Pelatihan higiene dan sanitasi penjamah makanan.
Penjamah makanan perlu dibekali pengetahuan mengenai kebersihan diri, sanitasi peralatan, dan lingkungan kerja agar tidak menjadi sumber kontaminasi mikroba (Kementerian Kesehatan RI, 2022).
· Pengawasan dan uji mikrobiologi secara berkala.
Pemeriksaan rutin oleh instansi terkait diperlukan untuk memastikan makanan yang didistribusikan aman dan layak dikonsumsi (Antara News, 2025).
BAB III
KESIMPULAN
Mikroba memiliki peran yang sangat penting dalam makanan dan minuman di Indonesia, baik sebagai agen yang memberikan manfaat maupun sebagai penyebab masalah kesehatan. Dalam konteks pangan, mikroba berperan positif melalui proses fermentasi yang menghasilkan produk bernilai gizi tinggi seperti tempe dan yoghurt, serta berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan kearifan lokal masyarakat Indonesia.
Namun, di sisi lain, mikroba patogen dapat menimbulkan risiko serius apabila mencemari makanan akibat pengolahan, penyimpanan, dan distribusi yang tidak memenuhi standar keamanan pangan. Kasus keracunan makanan massal, termasuk yang terjadi pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menunjukkan bahwa pengendalian mikroba dalam pangan masih perlu ditingkatkan agar kejadian serupa tidak terulang.
Oleh karena itu, permasalahan utama bukan terletak pada keberadaan mikroba itu sendiri, melainkan pada lemahnya penerapan higiene, sanitasi, serta sistem pengawasan pangan. Dengan penerapan standar operasional yang baik, pelatihan penjamah makanan, dan pengawasan rutin oleh instansi terkait, risiko keracunan makanan akibat mikroba dapat diminimalkan dan keamanan pangan di Indonesia dapat terjaga secara berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Antara News. (2025). Kasus keracunan makanan pada Program Makan Bergizi Gratis.
BPOM RI. (2023). Pedoman Keamanan Pangan.
Jurnal IPB. (2022). Peran mikroba dalam fermentasi pangan.
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Keamanan pangan dan sanitasi.
Liputan6.com. (2025). Keracunan massal akibat makanan siap saji.
World Health Organization. (2022). Food safety and foodborne diseases.