Selasa, 20 Januari 2026

FENOMENA HABs (HARMFUL ALGAL BLOOMS) ATAU EUTROFIKASI DI INDONESIA

 

FENOMENA HABs (HARMFUL ALGAL BLOOMS)

ATAU EUTROFIKASI DI INDONESIA

Dosen Pengampu : Sunarto, MPH.

 


 

 

 

Disusun Oleh:

BAGAS SAPUTRA BANGSAWAN

NPM : 202301597

 

 

 

PROGRAM STUDI DIPLOMA TEKNIK LINGKUNGAN

AKADEMI TEKNIK TIRTA WIYATA

MAGELANG

2026

 

 

 

 

Kata Pengantar

 

Segala puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi petunjuk dan Ridho-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat penulis selesaikan dengan baik. Tidak lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. 

Terlepas dari itu semua, penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah tugas Mikrobiologi dengan tema FENOMENA HABs (HARMFUL ALGAL BLOOMS) ATAU EUTROFIKASI DI INDONESIA jauh dari kata sempurna, baik aspek kualitas maupun aspek kuantitas dari materi dan penelitian yang disajikan. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik yang bersifat membangun dari berbagai pihak guna memperbaiki makalah ini agar menjadi lebih baik kedepannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Magelang, 5 Januari 2026

 

 

 

Bagas Saputra Bangsawan

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan sumber daya perairan yang sangat melimpah, baik perairan tawar maupun laut. Perairan tersebut dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti air minum, perikanan, irigasi, pariwisata, dan transportasi. Namun, meningkatnya aktivitas manusia seperti pertumbuhan penduduk, pertanian intensif, industri, serta limbah domestik telah menyebabkan penurunan kualitas perairan.

Salah satu permasalahan utama yang sering terjadi adalah eutrofikasi, yaitu kondisi perairan yang kaya nutrien, terutama nitrogen dan fosfor. Kondisi ini memicu pertumbuhan alga secara berlebihan yang dikenal sebagai Harmful Algal Blooms (HABs). Fenomena HABs tidak hanya menurunkan kualitas air, tetapi juga dapat menghasilkan racun (toksin) yang berbahaya bagi organisme perairan dan manusia. Oleh karena itu, kajian mengenai HABs dan eutrofikasi sangat penting untuk memahami dampak serta upaya pengendaliannya di Indonesia.

 

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan eutrofikasi dan Harmful Algal Blooms (HABs)?

2. Di mana dan kapan fenomena HABs terjadi di Indonesia?

3. Apa penyebab terjadinya HABs dan eutrofikasi?

4. Apa saja kerugian dan keuntungan yang ditimbulkan?

5. Bagaimana upaya penanggulangan dan solusi yang dapat dilakukan?

 

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Menjelaskan pengertian eutrofikasi dan HABs

2. Mengidentifikasi kejadian HABs di perairan Indonesia

3. Menjelaskan penyebab serta dampak HABs

4. Mengetahui upaya penanggulangan dan solusi yang dapat diterapkan

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Eutrofikasi dan Harmful Algal Blooms (HABs)

Eutrofikasi adalah proses peningkatan kesuburan perairan akibat masuknya nutrien dalam jumlah berlebih, terutama nitrogen (N) dan fosfor (P). Nutrien tersebut merangsang pertumbuhan fitoplankton dan alga secara cepat. Jika pertumbuhan ini tidak terkendali, maka akan terjadi ledakan populasi alga yang dikenal sebagai Harmful Algal Blooms (HABs).

HABs merupakan fenomena meningkatnya populasi alga atau sianobakteri tertentu yang dapat menimbulkan dampak negatif, seperti penurunan oksigen terlarut, kematian ikan, serta produksi racun berbahaya bagi manusia dan hewan.

 

2.2 Kejadian HABs di Indonesia

Fenomena HABs telah banyak dilaporkan terjadi di berbagai perairan Indonesia, baik perairan tawar maupun laut. Beberapa contoh kejadian HABs antara lain:

1. Waduk Jatiluhur (Jawa Barat) yang sering mengalami blooming Microcystis sp.

2. Danau Toba (Sumatera Utara) akibat beban nutrien dari limbah domestik dan keramba jaring apung.

3. Teluk Jakarta, yang menerima aliran limbah nutrien dari sungai-sungai di wilayah perkotaan.

Kejadian tersebut masih berlangsung hingga saat ini dan cenderung meningkat akibat tekanan aktivitas manusia.

 

2.3 Penyebab Terjadinya HABs

Penyebab utama eutrofikasi dan HABs adalah masuknya nutrien berlebih ke badan air. Sumber nutrien tersebut antara lain:

1. Limbah domestik yang tidak diolah secara optimal.

2. Limpasan pupuk dari aktivitas pertanian.

3. Limbah industri dan peternakan.

4. Aktivitas perikanan seperti keramba jaring apung.

Selain itu, faktor lingkungan seperti suhu tinggi, perairan yang tenang, dan intensitas cahaya yang cukup turut mempercepat pertumbuhan alga.

 

2.4 Dampak dan Kerugian yang Ditimbulkan

Fenomena HABs menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain:

1. Menurunnya kualitas air (bau, warna, dan rasa air berubah).

2. Berkurangnya oksigen terlarut yang menyebabkan kematian ikan.

3. Toksin alga yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

4. Gangguan terhadap instalasi pengolahan air minum (IPA).

Namun, dalam skala terbatas, alga juga memiliki potensi manfaat, misalnya sebagai sumber biomassa atau bahan baku bioenergi jika dikelola dengan baik.

 

2.5 Upaya Penanggulangan dan Solusi

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan eutrofikasi dan HABs antara lain:

1. Pengendalian sumber pencemar nutrien melalui peningkatan pengolahan limbah.

2. Pengurangan penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.

3. Pengelolaan kegiatan perikanan secara berkelanjutan.

4. Penerapan teknologi pengolahan air seperti aerasi dan koagulasi.

5. Monitoring kualitas air secara rutin dan berkelanjutan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Fenomena eutrofikasi dan Harmful Algal Blooms (HABs) merupakan permasalahan lingkungan yang serius di perairan Indonesia. Peningkatan nutrien akibat aktivitas manusia menjadi penyebab utama terjadinya blooming alga. Dampak yang ditimbulkan meliputi penurunan kualitas air, gangguan ekosistem, serta ancaman terhadap kesehatan manusia. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan terpadu dan berkelanjutan untuk mengurangi risiko terjadinya HABs di masa mendatang.

 

3.2 Saran

Diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor industri dalam pengelolaan kualitas perairan. Selain itu, peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan perairan sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya eutrofikasi dan HABs.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Effendi, H. (2003). Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius.

Chorus, I., & Bartram, J. (1999). Toxic Cyanobacteria in Water. WHO.

Wetzel, R. G. (2001). Limnology: Lake and River Ecosystems. Academic Press.

KLHK. (2020). Laporan Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peran Mikroba pada Kesehata

 Peran Mikroba pada Kesehatan Pendahuluan Mikroorganisme atau mikroba merupakan makhluk hidup berukuran mikroskopis yang tersebar luas di li...